Umarfaroeqq's Blog

Just another WordPress.com weblog

Qiyas

PENDAHULUAN

Ketika seseorang dihadapkan kepada sebuah persoalan (kasus) yang tidak dijelaskan hukumnya dalam al-Quran ataupun al-Hadits, maka pada saat itu pula ia merasa bahwa dirinya harus mencurahkan segala dedikasinya untuk menggali hukum yang baru yag bisa menghukumi kasus tersebut, karena di satu sisi hukum Islam itu dicetak untuk tetap berazaskan pada teksualitas dari nash-nash Quran atau hadits, namun di satu sisi yang lainnya, hukum Islam tersebut dituntut untuk harus selalu sesuai dengan kebudayaan, peradaban dan perkembangan masyarakat Islam yang selalu dinamis.
Secara garis besar, sumber dasar pengambilan hukum Islam itu terbagi menjadi dua epistim (bagian), Pertama, sumber yang berasal dari dalil-dalil naqli, yaitu sumber hukum yang diambil dari dua dasar utama al-Quran dan al-Hadits. Kedua, sumber yang berasal dari dalil aqli (ra’yi) yang berdasar pada kreatifitas daya berpikir untuk mencari ketentuan hukum-hukum yang berhubungan dengan mu’amalat ijtima’iyah, diman hukum tersebut belum diterangkan dalam dalil naqliyah, seperti Ijma’, Qiyas dan sebagainya.
Qiyas adalah salah satu methode yang dapat dipakai dalam prosesi pencarian hukum Islam terhadap kasus yang tidak dijelaskan hukumnya dalam al-Qur’an ataupun al-Hadits. Hanya saja methode yang dipakai dalam Qiyas adalah sebuah methode istinbath hukum dengan cara menyamakan sebuah kasus yang tidak ada nash hukumnya dengan sebuah kasus yang ada nash hukumnya.
Karena Qiyas adalah sebuah methode pencarian hukum yang berpangkal pada ro’yi (akal), maka produk hukum yang dihasilkannyapun masih debatable, antara diutamakan atau tudak, atau bahkan tidak dipakai sama sekali. Meski demikian, Imam-Imam Besar al- Mu’tabaroh tetap memakai Qiyas sebagai salah satu methode pencarian hukum terhadap kasus yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an atau al-Hadits, baik itu Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i atau Imam Hambali, hanya saja mereka berbeda pendapat (contra legem) dalam stressing pemakiannya, apakah diutamakan atau tidak.
Seperti methode pencarian hukum yang lain, dalam Qiyas juga terdapat syarat-syarat dan rukun-rukun sebagai ketentuan dalam Qiyas. Ada beberapa dasar yang membolehkan Qiyas, meski segolongan pemikir Islam ada yang menolaknya. Namun Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa Qiyas adalah hujjah Syar’iyah terhadap hukum syara’ tentang tindakan manusia (muamalah).
Hal-hal itulah yang akan kami bahas dalam makalah ini, meski nantinya kami akan mengaitkanya dengan methode-metode istinbath hukum yang lain.

LATAR BELAKANG

Apabila terjadi sebuah persoalan dimana hal itu sama sekali tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. sehingga hukum dari persoalan tersebut tidak dijelaskan dalam al-Qur’an ataupun Hadits, maka dengan apakah kita harus menghukuminya ? kita tahu bahwa nash-nash al-Qur’an dan al-Sunnah terbatas jumlahnya dan ada habisnya, sedangkan kejadian dan persoalan manusia tidak terbatas jumlahnya dan tidak ada habisnya. Sehingga dengan apa kita harus menghukumi hal-hal tersebut ?.
Selain dari pada itu, berikut kami sampaikan hal-hal yang relative signifikan yang melatar-belakangi kami dalam pemformatan makalah ini. Hal-hal tersebut adalah:
1. Apa sebenarnya Qiyas itu ?, seperti apakah bentuk dari syarat-syarat dan rukun-rukun dalam Qiyas ?
2. Ada yang berkata bahwa penggunaan Qiyas dalam memutuskan hukum itu masih dilematis antara dipakai atau tidak, lalu apa sajakah alasan mereka yang pro dengan methode ini, dan bagaimanakah alasan mereka yang menolak Qiyas ini ?
3. Bagaimanakah Qiyas menurut Imam-Imam empat al-mu’tabaroh seperti Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dalam pengguaan Qiyas ini, apakah diutamakan atau tidak ?

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN QIYAS
Kita tahu bahwa kebudayaan dan peradaban selalu berkembang seiring perkembangan zaman, dan tetap akan terus berkembang kecuali kalau manusia udah tiada. Demikian pula hukum yang mengitari manusia, ia dituntut untuk selalu mengatur manusia sesuai dengan kebudayaan dan kehidupan sekarang, bukan hukum yang dipakai pada masa lampau terkecuali aturan-aturan yang masih sesuai.
Dalam dunia hukum Islam, sumber hukum pokok yang tidak pernah dipertentangkan kehujjahannya dan merupakan sumber hukum-hukum Islam yang lain adalah al-Qur’an dan al-Hadits. Semua hukum Islam yang tercipta seolah-olah dibuat tidak bertentangan dengan kedua dasar tersebut, hanya saja permasalahannya adalah bahwa al-Qur’an dan al-Hadits terbatas jumlahnya.
Sedangkan kasus yang terjadi dalam diri kehidupan manusia itu selalu berubah dan berkembang. Sehingga dimungkinkan kita akan kesulitan kalau menghukumi sesuatu hanya dengan al-Qur’an dan al-Hadits saja. Sehingga muncul sebuah pertanyaan “Bagaimana kita menghukumi sesuatu, padahal itu tidak pernah dijelaskan dalam al-Qur’an dan al-Hadits ?”.
Untuk menjawab hal itu, sebenarnya banyak methode penggalian hukum baru dalam Islam. Namun dalam hal ini, kami mencoba membahas dari prosesi Qiyas saja, dimana Qiyas secara etymology adalah mengukur suatu hal dengan sesuatu yang menyerupainya. Seperti kata ﻘﺎﺲ ﺍﻠﺛﻮﺏ ﺒﺎﻠﻤﺗﺭ artinya: “ia mengukur baju dengan meteran”. Ada juga yang berkata bahwa Qiyas adalah menyamakan sesuatu dengan yang lain, seperti dikatakan “si Fulan tidak bisa diqiyaskan dengan si Fulan”, maksudnya ia tidak bisa disamakan dengannya.
Secara terminology Qiyas dapat dipahami sebagai sebuah methode istinbath hukum dengan cara mempersamakan suatu kasus yang tidak ada nash hukumnya dengan suatu kasus yang ada nash hukumnya, karena memiliki illat hukum yang sama.
Mengacu pada definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa apabila terdapat sebuah kasus yang tidak ada nash hukumnya dan juga terdapat kasus lain yang memiliki illat yang sama tapi ada nash hukumnya, maka cara menghukumi kasus yang tidak ada nash hukumnya tersebut adalah dengan menyamakannya terhadap kasus yang ada nash hukumnya.sehingga hukum dari kasus yang tidak ada nash hukumnya tersebut mengikuti pada kasus yang serupa itu, jika haram, maka juga ikut haram, jika wajib, maka juga ikut wajib dan sebagainya.
Hal itu dapat dicontohkan seperti “jual beli pada waktu datangnya seruan adzan untuk sholat jum’at” adalah kejadian yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash yaitu makruh, sebagaimana Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseur untuk menunaikan sholat pada hari jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli” (QS. Al-jum’ah: 9). Dari kutipan ayat ini dapat disimpulkan bahwa dimakruhkannya jual beli pada waktu datangnya seruan adzan sholat jum’at adalah karena sebuah illat, yaitu kesibukan yang melalaikan terhadap sholat jum’at. Sedangkan kasus sewa-menyewa, penggadaian, ataupun segala bentuk muamalah lainnya pada waktu panggilan sholat jum’at tidak ada nash hukumnya, tetapi juga memiliki illat yang sama dengan jual beli pada waktu tersebut, yaitu kesibukan yang dapat melalikan sholat, maka hal-hal tersebut diqiyaskan dengan jual beli mengenai hukumnya, lantas hal-hal itu juga dimakruhkan bila dilakukan pada waktu panggilan untuk sholat jum’at.

B. SYARAT-SYARAT DAN RUKUN-RUKUN QIYAS

Para Ulama Ushul berbeda pendapat tentang definisi qiyas. Akan tetapi dari semua pendapat tentang definisi ijtihad tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa qiyas itu terdiri dari empat perkara yang sekaligus merupakan rukun-rukunnya. Rukun-rukun sekaligus syarat dari rukun-rukun tersebut adalah:
1) Al-Ashlu
Al-Ashlu adalah sesuatu yang ada hukumnya dalam nash yang dipakai sebagai perbandingan. Ashal disebut juga maqis ‘alaih (yang dijadikan ukuran) atau mahmul ‘alaih (yang dijadikan pertanggungan)atau musyabbah bih (yang dibuat keserupaan).
Imam Syafi’i sebagai perumus awal konsep dasar qiyas, menekankan bahwa qiyas harus diambil dari al Qur’an, Assunah dan Ijma’, yang disebut sebagai dasar qiyas(ushul al qiyas). Pada ashl ini para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan syarat-syaratnya. Mereka tidak sepakat, tentang jumlah pasti syarat ashl. Ada yang mengemukakan dua seperti Ibnu Qudamah, ada yang enam syarat seperti al Razi dan Ibn al Haji, lima syarat seperti al Baidhowi.
Selanjutnya dengan berlalunya waktu, syarat ashl ini bertambah menjadi dua belas syarat, seperti yang diuraikan as-Syaukani. Walaupun terjadi perbedaan, menurut al-Razi ada 6 syarat yang disepakati oleh para ulama, selebihnya diperdebatkan. Keenam syarat itu diantaranya adalah:
1. Ashl adalah hukum yang telah tetap dan tidak mengandung kemungkinan dibatalkan (nasah). Artinya bahwa hukum yang telah dibatalkan(nashk) tidak dapat dijadikan dasar pengqiyasan ashl dengan far’ telah hilang.
2. Ashl harus merupakan hukum yang berdasarkan syara’.
3. Ashl itu bukan merupakan far’ dari ashl lainnya.
4. Hukum yang timbul dari ashl harus didukung oleh dalil syar’I yang syah, yaitu nash al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijma’.
5. Sebab ketetapan hukum ashl harus pasti dan tidak ambigu.
6. Hukum ashl tidak keluar dari kaidah-kaidah qiyas.
2) Hukum al-Ashl
Hukum al-ashl adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Rasulullah dalam al-Hadis terhadap suatu peristiwa yang disebutkan dalam nash secara tegas (lafzhiyyah) dan secara tersirat (ma’nawiyyah) yang dijadikan alasan penetapan. Dalam pengertian lain, hukum al-ashl adalah hukum yang terdapat pada kasus yang telah ditetapkan oleh syar’i, atau sifat yang melekat pada ashl, yaitu ibahah, tahrim, karahah, wujub, atau nadb, seperti sifat tahrim yang melekat pada khamer. Dari pengertian di atas dapat dipetik syarat-syarat bagi hukum ashl, yaitu:
1. Hukum al-ashl sudah ditetapkan dalam nash.
2. Hukum pada peristiwa ashl bisa diterima oleh akal.
Jika illat hukum ashl itu tidak diterima atau dicapai oleh akal, tidaklah mungkin hukum pada peristiwa atau kejadian yang lain(fara’) secara qiyas. Tidak ada hukum yang ditetapkan oleh akal manusia. Seperti apakah illat shalat dzuhur yang ditetapkan empat rakaat, apa pula illat shalat maghrib yang ditetapkan tiga rakaat, dan sebagainya. Hukum ashl kedua ini yang dijadikan sandaran qiyas.
3. Hukum ashl itu bukan merupakan hukum pengecualian atau bukan merupakan rukhsah untuk peristiwa tertentu. Artinya ketidakbolehan mengqiyaskan hukum rukhsah, disebabkan ketentuannya dalam bentuk pengecualian yang tidak sejalan dengan kauidah qiyas. Hukum ashl semacam ini ada dua macam, yaitu:
 Illat hukum itu hanya ada pada hukum ashl saja, tidak mungkin pada yang lain. Seperti dibolehkannya mengqoshor shalat bagi musaffir. Illat yang masuk akal dalam hal ini ialah untuk menghilangkan kesukaran atau kesulitan(musyaqqat) tetapi al Qur’an dan Hadis menerangkan bahwa illat itu bukan karena adanya safar(perjalanan).
 Dalil (al Qur’an dan Hadis) menunjukkan bahwa hukum ashl itu berlaku khusus, tidak berlaku pada kejadian atau peristiwa yang lain. Seperti beristri lebih dari empat hanya dibolehkan bagi Nabi Muhammad SAW saja, dan istri beliau itu tidak boleh kawin dengan laki-laki lain walaupun beliau telah meninggal.
3) Al-Far’u atau Maqis
Menurut Abdul Wahab Khallaf, al-far’u adalah sesuatu yang tidak ada hukumnya dalam nash, tetapi ada maksud menyamakannya kepada al-ashlu dalam hukumnya. Disebut al-maqis (yang diukur)atau al-mahmul(yang dibawa)atau musyabbah(yang diserupakan).
Ada beberapa syarat yang dikemukakan para fuqoha sebagian syarat disepakati, sebagian yang lain tidak disepakati. Namun secara umum ada empat macam syarat far’ yang ditetapkan fuqoha, yaitu:
 Illat yang terdapat pada far’ memiliki kesamaan dengan illat yang terdapat pada ashl, baik dalam jenis maupun substansinya. Artinya seluruh illat yang terdapat pada ashl terdapat juga pada far’. Dan secara kuantitas, illat pada far’, bisa lebih banyak atau seimbang dengan illat yang ada pada ashl.
 Far’ tidak boleh mendahului ashl dalam keberadaannya, karena jika terjadi, maka berarti berlakunya hukum pada far’ yang mendahului ashl, tanpa didasari dalil. Qiyas semacam ini misalnya mengqiyaskan wudhu kepada tayamum dalam menetapkan kewajiban niat. Wudhu itu lebih disyariatkan daripada tayamum, karena wudhu disyariatkan sebelum hijrah, sedangkan tayamum disyariatkan sesudah hijrah. Selain itu, ditetapkannya tayamum merupakan ganti dari wudhu disaat tidak ada air.
 Hukum far’u tidak boleh merupakan perintah yang didasarkan pada nash (manshush alaih). Hal ini karena akan menimbulkan pengqiyasan dari perintah tekstual kepada perintah tekstual lain yang sudah barang tentu tidak sesuai dengan maksud qiyas, yaitu mencari hukum kesamaan terhadap kasus yang tidak ada teksnya berdasarkan kasus yang ada teksnya. Syarat ini disepakati secara bulat oleh ulama’ sallaf.
 Far’ harus diungkap oleh nash, meskipun secara umum. Misalnya, hukuman bagi peminum khamer, ditetapkan secara umum oleh nash, tetapi perincian hukumannya, yaitu cambukan 80 kali, ditetapkan dengan qiyas atas hukuman qadzaf.
4) Illat
Dari keempat unsur qiyas, yang terpenting adalah illat karena dari illat ini akan menentukan hukum yang diqiyaskan. Seperti kesamaan illat antara khamer dan wiski yaitu sama-sama memabukkan. Dengan demikian illat mempunyai posisi yang signifikan dalam qiyas ini.
Secara etimologi illat berarti “nama bagi sesuatu yang menyebabkan berubahnya keadaan sesuatu yang lain.” Wahab Khallaf mendefinisikan sebagai sifat dalam hukum ashl yang dijadikan dasar hukum. Sedangkan syarat-syarat Illat adalah:
a. Illat itu harus jelas, nyata dan bisa ditangkap indera manusia, seperti sifat memabukkan dalam khamer dan minuman keras lainnya. Sifat memabukkan tersebut jelas dapat disaksikan indra manusia. Adapun illat itu tidak bisa atau tidak jelas ditangkap indra manusia. Maka sifat seperti itu tidak bisa diillatkan. Misalnya sifat sukarela dalam jual beli. Sifat sukarela ini tidak bisa dijadikan illat yang menyebabkan hak milik dalam jual beli, karena sukarela itu masalah batin. Yang sulit diindra karena itu sifat suka rela harus diwujudkan dalam bentuk perkataan ijab qabul atau melalui tindakan.
b. Sifat illat itu hendaklah pasti, tertentu, terbatas dan dapat dibuktikan bahwa illat itu ada pada fara’ karena asas qiyas itu adalah adanya persamaan illat, antara ashl dan fara’ seperti adanya keberatan dalam perjalanan. Sehingga membolehkan tidak berpuasa. Hukum ini dibantah oleh Syafi’I karena musyaqqah (keberatan itu) tidak pasti sebab ukuran kepayahan setiap orang berbeda-beda.
c. Adanya kesesuaian antara sifat dengan hokum, menjadikan sesuatu itu rasional dan diterima semua pihak. Misalnya sakit menjadi illat dibolehkannya tidak berpuasa, karena kalau diteruskan puasa akan membahayakan dirinya atau jiwanya.
d. Illat harus mempunyai sifat dapat diperluas (muta’addiyah). Artinya illat yang ada pada ashl dapat diperluas dan diterapkan pada kasus far’. Seperti ucapan “ah” pada orang tua yang bisa diperluas pada kata-kata atau perbuatan lain yang sejenis yang mwengandung unsur menyakiti atau menyinggung orang tua, sperti memukul, membentak dan sebagainya.

Metode-methode yang bisa dipakai dalam menentukan suatu illat adalah:
a) Penemuan illat berdasarkan nash
Penetapan illat berdasarkan nash berarti illat tersebut ditunjukkan nash. Baik secara eksplisit(qath’I), atau implicit(dhanni). Istilah lain dari qat’I dan dhanni adalah sharih dan nash zahir.
 Nash sharih, yaitu lafazd yang menunjukkan suatu illat dengan pasti tanpa ada kemungkinan makna yang lainnya.
 Nash Zhahir yaitu lafazd atau huruf yang menunjukkan arti illat dan kemungkinan makna lain atau lafazd yang mempunyai makna lebih dari satu pengertian, yang salah satu pengertiannya itu berfungsi sebagai illat.
b) Penemuan illat berdasarkan ijma’
Maksudnya ialah illat itu ditetapkandengan ijma’. Belum baligh (masih kecil) menjadikan illat dikuasai oleh wali harta anak yatim yang belum baligh. Hal ini disepakati para ulama’.
c) Dengan penelitian.
Ada beberapa macam cara penelitian yang dapat dilakukan, yaitu:
I. Munasabah
Munasabah secara etimologi berarti sesuai. Sedangkan secara terminology ushul berarti kesesuaian antara sifat atau sebab hukum dengan kasus hukum dalam rangka menciptakan kebaikan dan menolak kerusakan bagi manusia.
Agar maksud tujuan itu tercapai maka syari’at membagi perbuatan manusia atas tiga tingkatan, yaitu:
 Tingkatan dharuri(yang harus ada)
Tingkatan dharuri ini harus ada, tidak boleh tidak. Tingkatan dharuri mempunyai lima tingkatan lagi yaitu sering kita menyebutnya dengan “maqoshid asy-Syari’ah” , diantaranya adalah:
 Memelihara agama
 Memelihara jiwa
 Memelihara akal
 Memelihara keturunan
 Memelihara harta.
Dari kelima di atas tadi sebagian ulama’ ushul menyatakan: Tingkatan pertama lebih utama, selanjutnya tingkat ke dua dan seterusnya. Apabila tingkat ke dua bertentangan dengan tingkat ke satu, maka tingkat ke satulah yang dimenangkan, demikian selanjutnya.

 Tingkatan haji(yang sangat diperlukan)
Manusia dalam kehidupannya selalu berhadapan dengan keadaan lapang dan keadaan sukar dan sempit. Terutama dalam memikul kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Bagi orang yang berada dalam kesukaran, Allah selalu memberikan kelapangan dan kemudahan bagi mereka. Seandainya kemudahan itu tidak ada, niscaya kehidupan manusia akan terasa sulit dan sengasara. Contohnya saja boleh mengqodho sholat bila ada illat, dan sebagainya.
 Tingkatan tahsini.
Tahsini adalah segala sesuatu yang baik dikerjakan terutama yang berhubungan dengan akhlak dan susila. Dengan adanya tahnisi, kehidupan manusia akan lebih indah. Misalnya saja berhias dalam mengerjakan sholat, sopan santun, dan sebagainya.
II. Al-Sabr-wa Taqsim.
Al-Sabr atau al-misbar artinya mengukur atau menguji beberapa sifat yang terdapat dalam suatu hokum. Sedangkan al-taqsim berarti memilah-milah semua kemungkinan yang dianggap illat hokum setelah menghimpun sifat-sifat yang patut dijadikan illat. As-sabr wataqsim dilakukan apabila ada nash tentang suatu peristiwa atau kejadian, tetapi tidak ada nash atau ijma’ yang menerangkan illatnya.
Metode as-sabr wataqsim dalam istilah logika disebut juga dengan proposisi bersyarat terpisah(ai-syarth al-munfashil) yang sejenis denag silogisme. Ia digunakan untuk menemukan sebab-sebab rasional dalam persoalan-persoalan rasional. Misal hukum riba fadhal, yang terdapat hadits”termasuk riba adalah tukar menukar gandum dengan gandum dan kedelai dengan kedelai yang tidak sama.”
Pada hadits ini Rasulullah mencontohkan riba fadhal dengan tukar-menukar gandum atau kedelai, dengan tidak menyebutkan illat ribanya, baik secara langsung maupun tidak. Selanjutnya mujtahid menggunakan metode al sabr wa altaqsim. Mengumpulkan illat-illat tersebut, seperti illat sesuatu yang bisa dimakan, ukurannay, harta, dan makanan pokok. Selanjutnya dipilih dan dipilih illat.yang sesungguhnya, yaitu sesuatu yang bisa dimakan sebagai illat haramnya riba fadhal.
Setelah itu Imam Baidhowi membagi al taqsim menjadi dua yaitu; Pertama al-taqsim al-hashir yaitu ai-taqsim yang secara tegas menetapkan suatu illat dan membuang atau meniadakan illat yang lainnya. Seperti contoh riba fadhil tadi. Kedua al-taqsim ghayr al-hashir, yaitu al-taqsim yang tidak memastikan penetapan dan pengingkaran terhadap illat secara jelas.
III. Tanqiihul manath
Ialah mengumpulkan sifat-sifat yang ada pada fara’ dan sifat-sifat yang ada pada ashl, kemudian dicari yang sama sifatnya. Sifat-sifat yang sama dijadikan sebagai illat, sedang sifat yang tidak sama ditinggalkan. Misalnya, menjadikan senggama di siang hari Ramadhan sebagai illat adanya kafarat memerdekakan budak. Seorang mujtahid melihat bahwa nash hadits yang membicarakan kafarat bersenggama di siang hari Ramadhan mengisyaratkan beberapa sifat yang bisa dijadikan illat dalam kasus ini. Seperti pelakunya orang Arab, orang yang disenggamai adalah istrinya, dan senggama dilakukan di siang hari bulan Ramadhan. Namun setelah melalui penelitian mendalam disimpulkan bahwa illat kafarat yang sesungguhnya adalah senggama di siang hari. Jadi persoalan orang arab, yang disenggamai istri dibuang.

IV. Tahqiqul manath
Ialah menetapkan illat. Maksudnya ialah sepakat menetapkan illat pada ashl, baik berdasarkan nash atau tidak. Kemudian illat itu disesuaikan dengan illat pada fara’. Dalam hal ini mungkin ada yang berpendapat bahwa illat itu dapat ditetapkan pada fara’ dan mungkin pula ada yang tidak berpendapat demikian. Contohnya ialah illat potong tangan bagi pencuri, yaitu karena ia mengambil harta secara sembunyi pada tempat penyimpanannya, hal ini disepakati para ulama’. Berbeda pendapat para ulama’ jika illat itu diterapkan pada hukuman bagi pencuri kafan di kubur. Menurut Syafi’iyyah dan Malikiyyah pencuri itu dihukum potong tangan, karena mengambil harta di tempat penyimpanannya, yaitu di dalam kuburan. Sedang Hanafiyyah tidak menjadikannya sebagai illat, karena itu pencurian kafan tidak dipotong tangan.
V. Dan beberapa cara meneliti illat yang lain seperti Thard, Dawron, Syabah dan yang lainnya yang tidak bisa kami jelaskan dalam makalah ini, karena keterbatasan media.

C. KEHUJJAHAN QIYAS

Qiyas sebagai salah satu interpretasi akal dalam metode pengambilan hukum Islam, keberadaannya menuai ikhtilaf dikalangan para ulama. Ada golongan yang mempergunakannya seperti kebanyakan ulama-ulama Ahlussunah. Dan ada pula golongan yang tidak membenarkan mempergunakan qiyas seperti Daud dan pengikut-pengikutnya, Ibnu Hazm, segolongan dari Syi’ah dan golongan Mu’tazilah.
Walaupun demikian pada kesempatan ini akan dikemukakan kehujahan qiyas, diantaranya:
1) Bahwa Syariat Islam datang untuk mengatur kehidupan manusia, memelihara hubungan mereka secara khusus maupun yang umum diantara individu dan masyarakat, merealisir kemaslahatan untuk mereka, menolak tersebarnya kerusakan yang ada diantara mereka,
2) Bahwa al Qur’an telah mempergunakan qiyas dalam mencukupkan dan menetapkan hujjah serta menjelaskan berbagai hukum dan menetapkannya jika sama, dan menghilangkannya jika berbeda.
3) Rasulullahpun sering menggunakan qiyas bila para sahabatnya bertanya sesuatu. Contohnya: Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “Bagaimana kalau manusia memenuhi syahwatnya dengan berkumpul pada istrinya, apakah mendapat pahala? Beliau menjawab: ”Bagaimana pendapatmu seandainya ia lelakkan di tempat yang haram, apakah ia mendapat dosa?”Ia menjawab”Ya”.Selanjutnya beliau berkata:”Demikian juga jika ia dipergunakan pada perkara yang halal. Ia akan mendapat pahala.
4) Al Qur’an telah banyak menyuruh manusia untuk mengambil I’tibar (pelajaran) dalam berbagai peristiwa.
Secara garis besar pendapat jumhur ulama ushul, mengatakan bahwa qiyas bisa dijadikan sebagai metode atau sarana mengistimbatkan hukum syara’. Bahkan jumhur mengamalkan qiyas adalah wajib.
Antitesis dari kehujahan di atas, golongan yang anti qiyas mengajukan argumen sebagai berikut:
1. Qiyas dilakukan atas dasar dhan (dugaan keras) dan illatnyapun ditetapkan berdasarkan dugaan keras pula. Sedang Allah melarang kaum muslimin mengikuti sesuatu yang dhan. Firman Nya :
ﻡﻟﻋ ﺔﻳ ﻙﻟ ﻰﺴﻳﻟﺍﻤ ﻒﻗﺘﻻﻭ
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu.”
2. Sebagian sahabat mencela sekali orang yang menetapkan pendapat semata-mata berdasarkan akal pikiran, seperti perkataan Umar bin Khotob:”Jauhilah oleh kamu golongan rasionalisme karena mereka adalah musuh ahlussunah. Karena mereka tidak sanggup menghafal hadis-hadis, lalu mereka menyatakan pendapat akal mereka(saja) , sehingga mereka sesat dan menyesatkan.
Bila diperhatikan alasan-alasan di atas, ternyata kurang relevan karena surat al-Isro’ ayat 36 tidak berhubungan dengan qiyas tetapi berhubungan dengan hawa nafsu seseorang yang ingin memperoleh keuntungan, walaupun dengan menipu. Sedangkan perkataan Umar terkait dengan orang-orang yang berani menetapkan hukum, lebih mengutamakan pikirannya daripada nash-nash yang ada dan tidak menjadikan al Qur’an dan Hadits sebagai pedoman rasionya.

D. QIYAS DALAM PERSPEKTIF IMAM-IMAM MADZHAB

Dari pemaparan diatas dapat dipahami bahwa qiyas adalah salah satu methode pencarian hukum yang mana hasil hokum yang diperoleh dari qiyas ini sifatnya masih bersifat dalil dhonni. Jadi kedudukannya tetap dinomorduakan dari dalil-dalil qoth’i, bahkan Imam-Imam madzhab sendiri masih berbed-beda dalam penggunaanya. Ada yang mengutamknnya dan adapula yang tidak. Berikut pemaparannya secara eksploratif:
1. Imam Abu Hanifah
Nama lengkap Imam Abu Hanifah adalah Nu’mqn bin Tsabit bin Zuhty. Beliau lahir di Kufah. Irak tahun 80 H-150 H (699 M-766 M). beliau adalah seorang pedagang tekstil, kain sutera yang dibuat dari bulu. Meski demikian beliau masih menyempatkan waktu luangnya untuk belajar ilmu agama, khususnya ilmu fiqh secara tekun. Beliau belajar dari Hammad ibnu Abi Sufyan, Ibrahim, Alqamah dan dari Ibnu Mas’ud RA. Oleh karena itu, perpaduan antara ilmu agama dengan pekerjaan beliau membuat daya piker beliau lebih praktis dan kritis dalam ilmu hukum, dan hal itulah yang juga menyebabkan beliau lebih benyak menggunakan methode Qiyas dan Istihsan.
Secara lebih ribci, methode dalam mengelola hokum yang dipakai Imam Abu Hanifah sebagai berikut:
a. Al-Qur’an: secara absolute (muthlak).
b. Al-Hadits; tapi yang mutawatit (shahih), hadits yang salah satu perawinya terdapat seorang ahli fiqh, dan hadits masyhur.
c. Ijma’ Ahlul Madinah; tapi ijma’ ini jarang digunakan, karena kondisi dan situasi penduduk Madinah jauh lebih berbeda dengan Irak, baik dalam hal Struktur, Sosial, Ekonomi, Politik dan Kehidupan.
d. Al-Ro’yu; yakni pendapat beliau dengan menggunakan Qiyas atau Istihsan. Demikian juga beliau selalu mempergunakan dan memperbandingkan dengan adapt istiadat Islam yang berlaku, terutama di Irak.

Al-Qur’an Qiyas Ijma’ Hadits Istihsan

b. Imam Malik bin Anas (93 H-179 H/ 713 M- 795 M)
Methode yang di pakai Imam Malik dalam mengelola hukum adalah:
1. Al-Qur’an sebagai sumber utama.
2. Al-Hadits yang dianggap sah, seperti hadits Mutawattir, Masyhur, Ahad (walaupun berlawanan dengan Qiyas atau perbuatan perawinya, asal tidak berlawanan dengan perbuatan ahli Madinah). Hadits Ahad lebih utama dari Qiyas.
3. Ijma’ Ulama’ penduduk Madinah yang dianggap sah dan pernah dilakukan oleh ulama’-ulama tersebut.
4. Qiyas atau Istihsan, Masalihul Mursalah.

Al-Qur’an Hadits Ijma’ Qiyas
Maslahah Mursalah

c. Imam Syafi’i (150H-204 H/ 767 M- 820 M)
Dalam mengelola hukum, methode yang digunakan Imam Syafi’i adalah:
1. Al-Qur’an
2. Al-Hadits; dasar yang disejajarkan dengan al-Qur’an kecuali Hadits Ahad, dan yang belum jelas keshahihannya.
3. Ijma’; dengan syarat dilakukan oleh para ulama’ yang mempunyai keahlian khusus.
4.Fatwa-fatwa para shahabat, asalkan pendapat tersebut tidak ada yang menentangnya.
5. Qiyas, beliau lebih mengutamakan hadits Ahad daipada Qiyas.

Al-Qur’an Hadits Ijma’ Qiyas
Fatwa Shahabat

d. Imam Ahmad bin Hanbal (164 H-241 H/ 855 M-932 M)
Methode pengelolahan hukum yang dipakai adalah:
1. Al-Qur’an; secara mutlak baik ayat-ayat yang dipahami secara lahiriyah (eksplisit) atau secara mafhum saja (inplisit).
2. Al-Hadits; tanpa membedakan apakah sanadnya (perawinya) seorang saja, atau yang diragukan dan sebagainya, kecuali kalau sudah terbukti dustanya (maudhu’). Hadits-hadits tersebut lebih diutamakan dari Ijma’ ataupun pendapat para shahabat.
3. Ijma’ ataupun fatwa-fatwa seorang shahabat, walaupun belum jelas disepakati oleh para shahabat yang lain.
4. Qiyas; hal ini beliau gunakan kalau dalam keadaan darurat atau tidak ada pilihan yang lain.

Al-Qur’an Hadits Ijma’ Qiyas

KESIMPULAN

Dari sekian pemaparan diatas, sepertinya kita masih merasa kesulitan memahaminya, karena hal itu masih terdiri dari term-term pokok dan term-term penjelas. Maka dari itu, berikut kami ulas ulang pemaparan tersebut, namun dalam wacana yang lebih konklusif agar lebih mudah bagi kita memahminya. Hal-hal tersebut adalah:
1. Qiyas adalah sebuah methode istinbath hukum dengan cara mempersamakan suatu kasus yang tidak ada nash hukumnya dengan suatu kasus yang ada nash hukumnya, karena memiliki illat hukum yang sama.
2. Rukun-rukun Qiyas adalah: (1) Al-Ashl; kasus yng ada nash hukumnya, (2) Hukmul ashl; hukum dari al-Ashl (kasus) itu, (3) al-far’u/ al-Maqis; kasus yang tidak ada hukumnya, (4) Illat; sifat yang ada dalam hukum ashl, atau alasan kenapa sebuah kasus tertentu dihukumi tertentu (wajib, haram, dn sebagainya.).
3. a. Salah satu rasionalisasi bahwa Qiyas dapat dijadikan sebagai hujjah syar’iah adalah bahwa Rasulullahpun sering menggunakan Qiyas bila para shahabat bertanya sesuatu. Seperti seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “Bagaimana kalau manusia memenuhi syahwatnya dengan berkumpul pada istrinya, apakah mendapat pahala ?”, beliau menjawab “Bagaimana pendapatmu seandainya ia letakkan di tempat yang haram, apakah ia mendapat dosa ?”, laki-laki itu menjawab “Ya..!!”, selanjutnya beliau berkata “Demikian juga jika ia dipergunakan pada perkara yang halal, ia akan mendapat pahala”.
b. Salah satu alasan yang dipakai beberapa Ulama’ dalam menolak kehujjahan Qiyas adalah karena Qiyas dilakukan atas dasar dhon (dugaan keras), dan illatnyapun ditetapkan berdasarkan dugaan keras pula. Padahal Allah melarang kaum Muslimin mengikuti sesuatu yang dhon. Alla berfirman:
ﻡﻟﻋ ﺔﻳ ﻙﻟ ﻰﺴﻳﻟﺍﻤ ﻒﻗﺘﻻﻭ
4. Qiyas dalam perspektif para Imam Madzhab adalah:
a. Imam Abu Hanifah

Al-Qur’an Qiyas Ijma’ Hadits Istihsan
b. Imam Malik bin Anas

Al-Qur’an Hadits Ijma’ Qiyas
Maslahah Mursalah
c. Imam Idris al-Syafi’i

Al-Qur’an Hadits Ijma’ Qiyas
Fatwa Shahabat
d. Imam Ahmad bin Hanbal

Al-Qur’an Hadits Ijma’ Qiyas

DAFTAR PUSTAKA
Amir, Dja’far, Ilmu Fiqh, Solo: Ramadhani, 1991.

Anwar, Rusydan, dkk., Ushul Fiqh I (MAKN), Jakarta: DEPAG, 1997.

Hakim, Abdul Hamid, Mabadiu Awwaliyah, Jakarta: Saadiyah Putera, tt.

Khalaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh, ter. Masdar Helmy, bandung: Gema Risalah Press, 1997.
———–, Ilmu Ushul Fiqh, terj. M. Zuhri dan Ahmad Qorib, Semarang: Dina Utama 1994.
———–, Kaidah-kaidah Hukum Islam, Jakarta:Rajawali Press, 1993.

Matdawam, M. Noor, Dinamika Hukum Islam (Tinjauan Sejarah perkembangannya), Yogyakarta: tp., 1985.
———– , Ushul Fiqh, Yogyakarta: tp., 2002.

Mukhtar, Kamal, Ushul Fiqih, jilid I, Yogyakarta:Dana Bhakti Wakaf, 1995.

Roy, Muhammad, Ushul Fiqih Madzhab Aristoteles, Yogyakarta: Satiria Insania Press, 2004.

Shidiqi, Hasbi, Pengantar Ilmu Fiqih, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
.
Yahya, Muchtar dan Fatchur Rahman, Dasar-Dasar Pembinan Fiqh Islam, bandung: PT. Al-maarif, 1986.
———–, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami, Bandung:PT.Al-Ma’arif, 1986.

July 3, 2009 Posted by | tugas kuliah | Leave a comment

Ubuntu proved the optimal choice

Simplicity in switching, ease-of-use, great client/server
side management and outstanding reliability – Ubuntu
proved the best choice for KRUU-FM Radio Station.
Background
KRUU-FM, a non-profit community radio station based in Iowa, USA, broadcasts
locally 24 hours a day via an FM signal, and online to 30 countries via an MP3 audio
stream. They have about 50 hosts who create a variety of programmes, from
bedtime-stories to death-metal music.
Issue
KRUU-FM needed to update the operating system in their studio and needed a
solution that:
:: Looked good and was simple to use, so that Windows and Mac users could step in
and get working right off.
:: Reliable and easy to manage both locally and remotely.
:: Supported audio editing and mixing software/hardware.
Solution
Sundar Raman, a presenter at KRUU-FM, chose to implement Ubuntu. He says, “Our
requirements were quite complex and our decision to go with Ubuntu was based on
three factors and Ubuntu won hands down. We did not want to get stuck in the world
of managing different binary distributions based on what was supported and what
was not. The Synaptic package manager is more elegant than the RPM-based
solutions in some paid-for Linux distros and can be used by just about anyone.
Critically we wanted a distro that would be usable by the average user.”
Result
Client side management: Ubuntu has been easy to roll-out. Application search
and installation are far easier than on an equivalent proprietary software install and
more convenient than some other distributions.
Server side management: The daily technical support of non-technical personnel
has also been eased by the clean design ethos of Ubuntu and the ability to add
Nautilus scripts to do many of the smaller tasks (audio conversion, automatic saves,
etc.).
Strong support community: The centralised ubuntuforums.org and launchpad.net
forums/application provide a lot of assistance in getting the systems working
properly.
Sundar concluded, “Ubuntu worked out great technically. However, where it was
truly remarkable was in the area of community support. Since Ubuntu is so popular,
our decision to go 100% Linux-based, including for our recording and mixing
consoles, was well supported. The existence of the Ubuntu-Studio community helped
us make our decision to drop Pro-Tools, and go with Ardour and Audacity on all our
workstations.”

May 8, 2009 Posted by | tugas kuliah | , | Leave a comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.